Monday, December 31, 2018

NOL-ISASI EGO

NOL-ISASI EGO


REFLEKSI PERKULIAHAN
FILSAFAT PENDIDIKAN
Prof. Dr. Marsigit
NOL-ISASI EGO
Manusia pada dasarnya secara filosofi adalah makhluk yang unik. Tidak hanya pada perilakunya tetapi juga pada pemikirannya. Kenapa in bisa terjadi? Karena manusia memang diberikan banyak sekali kelebihan dibandingkan makhluk lainnya. Salah satunya adalah pemikiran dengan didasarkan pada kemampuan otak yang diberikan.
Salah satu sifat lain manusia yang unik adalah kecenderungan mencari sesuatu yang baru. Keinginan mencari sesuatu hal baru ini seringkali juga menjadikan manusia lupa akan esensi awalnya. Bagi sebagian orang kemudian adalah dianggap penggunaan akal keluar dari kodratnya.
Belajar filsafat tentu tidak terlepas dari ego. Karena sebenar-benar filsafat adalah sebenar-benar pendapatmu dan pemikiranmu. Adanya pemikiran yang berkembang seperti membuat kajian filosofi seolah keluar dari atas dan kemampuan manusia itu sendiri. Karena menganggap bahwa kemampuan manusia adalah tak terbatas. Maka munculnya aliran realisme dalam kontek filsafat yang didasari dari pemikiran aristoteles. Dalam pandangan ini manusia mempunyai hak untuk menentukan. Sebab dasar dari eksistensi adalah, materi tidak ditentukan tetapi mampu untuk menentukan dan itulah yan diseut potensi. Bentuk, atau penyebab formal, yang di dalamnya sesuatu itu dibuat. Bentuk, prinsip aktualitas, merupakan disain yang membentuk dan memberikan struktur ke objek.
Dalam perkembangannya,  Aristoteles melihat bahwa eksistensi sebagai penyatuan dua elemen aktualitas dan potensialitas, bentuk dan materi.  Hal ini lah yang dalam pemahaman barat disebut dengan Dualisme. Manusia dapat dilihat sebagai makhluk ciptaan yang terdiri dari jiwa dan daging atau akal dan materi. Berdasarkan pada dualisme itu, perbedaan dapat dibentuk yang telah menjelaskan konsekuensi penididikan. Pendidikan dapat dipisahkan menjadi teori dan praktik.
Manusia yang benar-benar bertindak seperti manusia biasa adalah seseorang yang diatur oleh kekuatan yang paling kuat dan jelas—nalarnya. Meskipun emosi manusia merupakan alat untuk merasakan kesenangan dan kemauannya merupakan alat untuk mendapatkan, akhirnya emosi dan kemauan diatur secara seksama oleh nalar. Ketika diatur oleh nafsu, emosi, dan kemauan, manusia bertindak secara tidak cerdas dan merendahkan kemanusiaan esensialnya. Ketika diatur oleh nalar, manusia dapat meningkatkan keunggulan karakter moral yang merupakan pertengahan antara ekstrem penindasan dan ekspresi yang tidak dihalangi atau pengikutsertaan nafsu.
Pendidikan disampaikan Aristoteles sebagai alat untuk mencari kebahagiaan (Eudaimonia). Kebahagiaan terbesar manusia adalah unggul dan sempurna dalam segala hal. Hal yang paling penting dari keunggulan adalah menjadi manusia yang benar-benar penyayang, mankhluk yang sejatinya bernalar. Pendidikan membantu manusia dalam mencapai pencariannya untuk menyempurnakan nalarnya. Ketika nalarnya disempurnakan, maka manusia akan menjadi manusia sejati. Menurut posisi Aristotelian, pendidikan selalu menuju ke akhir,menuju kesempurnaan alam manusia. Pendidikan mempunyai fungsi meningkatkan bagian yang terbaik dari alam manusia dan kecakapan yang lebih rendah manusia. Ketika Pendidikan diarahkan pada kesempurnaan pencarian rasional, hal itu mengambil pada dimensi tambahan untuk membantu manusia dalam membentuk masa depan mereka melalui pertimbangan dan perbuatan.
Kecenderungan manusia yang semakin mengunggulkan akal dan pikirannya memang memuat manusia lupa akan tugasnya. Mereka perlu diberikan pemahaman dan atas bahwa untuk membuat manusia sadar akan eksistensinya maka pelu di NOL kan EOnya. Karena ada kekuatan besar di luar dirinya yang Maha segalanya. Dalam konsep islam pun sudah di jelaskan bahwa ada kewajiban manusia di dunia yaitu sebagai hamba/abid dan sebagai khalifa (pemimpin). 
Sebagai hama manusia perlu mengabdi kepada Tuhannya dalam hal ini adalah Allah SWT. Kita diminta selalu taat kepada-Nya. Sebagai hamba maka pelu dijelaskan untuk mencari kedamaian kemakmuran dan manfaat di dunia perlu penalaran. Tetapi nalar dalam tujuan mencapai kebahagiannya ada batasnya dan tidak boleh meningkari kuasa Tuhan.  
Semoga kita selalu patuh dan sadar akan eksistensi kita…. selamat merenung…

No comments:

Post a Comment